Apa itu skizofrenia?

Skizofrenia adalah gangguan fungsi otak, yang dapat mengganggu cara orang berpikir, merasa dan berhubungan dengan orang lain. Skizofrenia merupakan penyakit yang serius, dapat berlangsung lama serta sering terjadi kekambuhan. Meski demikian penyakit ini bisa disembuhkan bila diobati dengan sungguh-sungguh.

Source : nationalgeographic.grid.id

Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Sekitar 1 (satu) per 100 orang beresiko terkena skizofrenia baik pria atau wanita. Pria dan wanita yang terpengaruh sama, namun pria cenderung mengalami episode skizofrenia pertama pada akhir umur belasan atau awal 20-an. Sementara wanita timbulnya gejala ini biasanya beberapa tahun kemudian. Dalam sebegaian besar kasus, penyakit ini dapat mulai secara bertahap bahwa orang akan mulai mengalami gejala, tetapi mereka dan keluarga mereka mungkin tidak menyadari penyakit untuk waktu yang lama.

Kesalahpahaman tentang Skizofrenia

Skizofrenia adalah penyakit biologis berbasis otak, dan bukan sesuatu yang disebabkan oleh roh jahat, sihir, atau kerasukan setan seperti yang menjadi pimikiran banyak orang.

Ada banyak kesalahpahaman masyarakat tentang skizofrenia yang membutuhkan koreksi diantaranya :

  • Orang tidak pernah pulih dari skizofrenia
  • Skizofrenia menular
  • Orang dengan skizofrenia tidak dapat membuat keputusan tentang pengobatan mereka sendiri
  • Orang dengan skizofrenia kemungkinan akan kekerasan
  • Kebanyakan orang dengan skizofrenia tidak dapat bekerja
  • Penjara adalah tempat yang tepat untuk penderita skizofrenia

Kesalahpaman ini membawa derita yang buruk bagi ODS (Orang Dengan Skizofrenia) karena adanya stigma negatif dari masyarakat, nasib ODS seringkali mandapat perlakuan yang tidak manuisiawi dan diperlakukan tidak lebih mulia dari binatang sekalipun.

Apa saja gejala skizofrenia?

Gejala-gejala  skizofrenia terbagi ke dalam dua kategori yaitu Gejala Positif dan Gejala Negatif. Gejala Positif (kadang-kadang gejala psikotik disebut) mengacu pada gejala yang muncul; gejala negatif merujuk kepada unsur yang diambil dari seseorang.

Gejala Positif

Gejala Positif meliputi:

  • Delusi atau Waham

Delusi atau Waham adalah keyakinan palsu yang tidak konsisten dengan budaya seseorang, dan tidak memiliki dasar fakta. Contoh, penderita yakin ada orang atau kelompok orang yang ingin membunuhnya, sedang dimata-matai atau korban persekongkolan (disebut delusi kejar); penderita merasa dirinya sebagai orang yang sangat penting atau memiliki kekuasaan atau kecerdikan yang luar biasa, sebagai orang terkenal atau sangat dicintai (delusi kebesaran); atau merasa dirinya sangat berdosa, tidak memiliki apapun di dunia ini sehingga tidak ada gunannya hidup (delusi nihilistic).

  • Halusinasi

Halusinasi adalah persepsi indera yang salah, yaitu mendengar, melihat, merasakan, mencium atau merasakan sesuatu yang tidak benar-benar ada. Dengan Halusinasi pada akhirnya dapat menimbulkan sikap dan prilaku yang menyimpang. Penderita terlihat tertawa atau berbicara sendiri (sebagai respon dari halusinasinya), menjadi pemarah karena merasa terganggu oleh halusinasinya atau bisa berkembang pemikiran yang keliru karena penderita sangat percaya dengan apa yang didengarnya.

  • distorsi pikiran (pikiran yang tidak berhubungan yang membuat tidak mungkin untuk berkomunikasi dengan jelas dengan orang lain)
  • distorsi suasana hati (kesulitan dalam mengungkapkan perasaan; ungkapan perasaan tidak tepat atau intens emosi; perasaan kosong)
  • distorsi perilaku (tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari seperti mandi, berpakaian dengan tepat dan menyiapkan makanan sederhana)
  • perubahan dalam sensitivitas (sangat sensitif dalam menjalani hidup).

Gejala Negatif

Gejala Negatif diantaranya:

  • melambatnya tingkat aktivitas fisik atau, lebih jarang, overactivity
  • kurang motivasi, misalnya dalam  menyelesaikan pekerjaan.
  • kehilangan gairah dan kepentingan melakukan sesuatu. Untuk orang dengan skizofrenia, dunia tampak datar dan tidak menarik. Rasanya seperti itu tidak sebanding dengan usaha untuk keluar dan melakukan sesuatu.
  • kurang perhatian untuk penampilan pribadi.
  • Bicara Terbatas. Orang dengan skizofrenia sering kali tidak akan mengatakan banyak hal.

Tipe Skizofrenia

Berdasarkan gejala yang timbul maka skizofrenia diklasifikasikan kedalam beberapa jenis tipe, yakni:

  1. Tipe Paranoid

Ini tipe yang paling sering dijumpai. Gejala utama dari tipe ini adalah halusinasi dan delusi yang sangat dominan. Delusi yang terjadi bisa lebih dari satu, misalnya penderita merasa dirinya dimata-matai, sekaligus merasa dirinya orang penting dan berkuasa. Halusinasi bisa bersatu dengan delusinya, misalnya mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa ia harus hati-hati karena ada yang berniat membunuhnya. Pada tipe ini jarang ditemui adanya pikiran yang kacau atau emosi yang mendatar.

  1. Tipe disorganized

Gejala yang dominan adalah pembicaraan dan perilaku yang kacau, emosi yang mendatar dan kadang sulit dimengerti, misalnya tertawa tanpa sebab, dll.

  1. Tipe katatonik

Pada tipe ini sikap dan perilaku penderita seperti “patung”, nampak diam dan momojok dalam posisi tertentu, sering tidak bergerak sama sekali untuk jangka waktu yang lama, pembicaraan sangat sedikit bahkan hamper tidak ada.

  1. Tipe tak tergolongkan

Pada tipe ini tidak dijumpai gejala-gejala yang khas atau menonjol. Penderita dapat mengalami halusinasi atau delusi dengan kualitas dan kuantitas yang rendah.

Tahapan Skizofrenia

Skizofrenia memiliki tiga fase yaitu prodromal (permulaan), fase aktif dan fase residual. Fase ini muncul secara berurutan dan muncul dalam siklus perjalanan penyakit.

  • Fase Prodromal

Pada fase prodromal, orang mungkin mulai kehilangan minat  dalam kegiatan yang biasa mereka lakukan dan mereka menarik diri dari teman dan keluarga. Mereka mungkin menjadi mudah bingung, kesulitan berkonsentrasi, dan merasa lesu dan apatis, lebih memilih sendirian menghabiskan sebagian besar sehari-hari mereka sendiri. Fase ini bisa berminggu-mingu atau bulan.

  • Fase Aktif

Selama fase aktif, penderita biasanya mengalami delusi, halusinasi, ditandai distorsi pemikiran dan gangguan dalam perilaku serta perasaan. Fase ini merupakan fase yang paling ekstrim dan menakutkan untuk penderita skizofrenia dan juga kepada orang lain.

  • Fase Residual (Sisa Fase)

Setelah fase aktif, penderita mungkin mengalami lesu dan berkonsentrasi. Gejala dalam tahap ini mirip yang terjadi dalam fase prodromal.

Perawatan  Skizofrenia

Orang dengan skizofrenia dapat diperlakukan sebagai pasien rawat jalan atau mereka mungkin dirawat di rumah sakit. Pengobatan biasanya terdiri dari pemberian obat dan intervensi psikososial. Selama perawatan, keluarga dapat menerima dukungan dan pendidikan selama sesi dengan perawatan tim..

Obat Antipsikotik adalah kelas utama obat yang dipakai untuk mengobati skizofrenia. Obat ini meredakan gejala psikosis dan dapat membantu untuk mencegah kekambuhan. Obat lain mungkin diresepkan untuk membantu mengelola efek samping antipsikotik atau untuk mengobati gejala-gejala tertentu depresi, kecemasan atau kesulitan tidur.

Skizofrenia biasanya berkembang pada orang muda selama tahun ketika mereka biasanya akan mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk hidup mandiri. Berbagai intervensi psikososial seperti manajemen kasus, konseling, dan program perumahan yang sering digunanakan untuk membantu mengembangkan keterampilan ini.

Konseling keluarga dapat membantu orang dengan skizofrenia dan keluarga mereka memahami dan mengelola masalah yang terkait dengan penyakit.

Hal ini penting untuk mencoba untuk menghindari kambuh dengan mengikuti pengobatan yang diresepkan.

 

SKIZOFRENIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »