Dulu kala ada tempat dimana ketidak berdayaan ada. Tak ada satupun orang yang ingin datang ketempat ini dengan suka rela. Namun tempat ini pulalah orang mengenal hakikat dirinya yang lemah. Berharap ada keajaiban dari keberadaan tempat ini. Berharap Tuhan bersamanya. Bagi pengelola tempat ini , semua orang diperlakukan sebagai first class. Dilayani dengan keramahan dan senyum. Itu sebabnya nama tempat ini adalah Hospital yang merupakan padanan kata dari keramahan atau hospitality. Kata hospitality sendiri berasal dari hospes ( Latin) yang berarti adalah tuan rumah. Karena dulu umumnya pemilik Tempat keramahan ini adalah para orang suci yang hidup dari membantu orang lain karena sakit. Orang menyebut dirinya adalah hospes dan tempat dia merawat yang sakit disebut hospital yang penuh dengan hospitality ( keramahan )

Orang bijak berkata bahwa bahasa menentukan karakter budaya bangsa. Di belahan negara maju seperti di Eropa dan As, para medis dan seluruh lini management Hospital dipaksa untuk memahami system keramahan ini. Mereka melekat dengan kata dari hospital untuk hospitality. Bila kita menyebut tempat perawatan orang sakit adalah Rumah Sakit maka yang dipahami adalah rumah penampungan orang sakit. Manusia dianggap benda mati. Makanya tak aneh bila tak tampak disini ada pelayanan keramahan seperti tempat orang suci mengabdikan hidupnya untuk mengurus orang lain. Mungkin terlalu berharap ada ketulusan dari paramedis disini. Kelas terbentuk dalam system pelayanan. Semuanya berbicara soal uang dan tariff.

Di Indonesia , entah mengapa tempat merawat orang sakit disebut sebagai “ Rumah Sakit”. Dari dua suku kata yang teridiri dari “ Rumah “ dan “ Sakit”, orang mengartikan bahwa ini adalah tempat orang sakit. Tapi bagi pelayanan kesehatan yang murah meriah penuh subsidi dizaman Soeharto ,tempat ini disebut Puskesmas. Tidak ada kata tentang Rumah Sakit. Kalau kemudian orang mengartikan bahwa puskesmas itu adalah Rumah Sakit berukuran kecil dan tak layak disebut sebagai Rumah Sakit, maka disebutlah itu sebagai Klinik. Tapi Aisyiah, dari dulu sejak zaman Soeharto mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak ( BKIA). Ini sejenis yang namanya klinik tapi Aisiyah menyebutnya Balai. Dalam bahasa Indonesia , Balai itu sendiri berarti adalah lembaga yang lebih bertujuan social, yang membedakan dengan lembaga profit.

Bukankah hakikat penyakit sebetulnya karena manusia sedang dicoba oleh Allah untuk sabar dan ikhlas. Cobaan itu tidak hanya kepada sisakit tapi juga kepada yang sehat. Dua pihak harus mempunyai sifat sabar dan ikhlas. Lantas apa jadinya bila orang sakit tertekan batinnya karena system yang tak lagi ada keikhlasan. Seharusnya ada satu perubahan system yang lebih kepada pelayanan dan keramahan bagi si sakit. Terlepas dia kaya atau miskin. Keramahan tersebut bukan hanya senyuman tapi lebih daripada itu adalah menempatkan posisi sisakit pihak yang membutuhkan pertolongan lahir batin. Dengan pelayanan penuh dedikasi dan tulus bagaikan orang suci maka sebetulnya sudah memberikan efek sembuh 90% kepada sisakit. Selebihnya adalah upaya medis untuk membuat sisakit sembuh sempurna.

Dalam konteks globalisasi , kini Rumah Sakit sudah menjadi bagian integral dari business raksasa industri pharmasi termasuk peralatan kedokteran. Dari business pharmasi ini melebar kepada business asuransi kesehatan. Semuanya menyatu dalam satu system untuk menciptakan laba lewat memeras. Dalam WTO semua komoditi dunia harus di disclose soal harga pokoknya tapi soal obat obatan yang sudah dipatenkan ( cara kapitalis ) maka harga pokok tidak boleh diketahui oleh siapapun. Maka jangan terkejut ketika AS dan Barat marah besar kepada China yang berhasil membuat obat sejenis Viagra seharga RMB 2 ,padahal Viagra buatan AS dan Barat seharga USD 5 atau 15 kali lebih mahal dari obat buatan china yang sejenis. Begitupula dalam hal peralatan kedokteran, dimana China bisa menjual dengan harga hanya 10% dari harga buatan AS dan Barat. China pun dituduh melakukan dumping harga.

Perusahaan asuransipun sudah menyatu sebagai promotor terjualnya obat bercertifikasi FDA. Karena bukan rahasia lagi bahwa hampir semua perusahaan asuransi local me-reasuransikan jasanya kepada perusahaan asuransi International. Hanya obat yang bersertifikasi FDA saja yang bisa dibayar oleh asuransil. Sementara obat obatan sejenis herbal tidak diakui sebagai pertanggungan asuransi. Disamping itu , teknik promosi dengan system komisi kepada dokter yang berhak mengeluarkan resep obat, juga berperan penting membuat dahsyatnya pertumbuhan industri pharmasi. Tak perduli betapa tidak terjangkaunya harga obat bagi orang miskin

Pemerintah atau siapapun yang peduli terhadap pelayanan kesehatan maka sudah seharusnya system yang menempatkan Rumah Sakit sebagai institusi kapitalis dirubah. Perubahan tersebut haruslah meliputi kemampuan bangsa untuk memproduksi sendiri obat dalam bentuk herbal atau lepas dari produksi obat yang sudah dipatenkan oleh pihak industri parmasi asing yang rakus… Herbal, disamping harganya murah, juga tidak punya efek sampingan. Juga tentu akan mempunyai multiplier effect terhadap kesejahteraan petani dan masyarakat untuk mendapatkan hasil dari apotik hidup ini. Mungkin hasilnya belum akan sehebat kata orang bila menggunakan obat modern. Tapi harus ada keyakinan untuk memulai , bahwa kemandirian adalah segala galanya dan bukankah nyawa ditangann Allah. Allah telah menyediakan alam semesta ini untuk manusia termasuk obat sebagai pelindung manusia dari penyakit.

Nama Rumah Sakit untuk orang sakit harus diganti menjadi Balai Kesehatan Umat, yang lebih bernuansa social. Standard Operating Procedure penanganan pasien pun harus diperbaiki agar tidak berkiblat kepada pihak Barat / AS. Kita butuh jaringan Balai Kesehatan ala pengobatan Indonesia yang berasal dari kekuatan budaya turun temurun bangsa sendiri. Kalau Balai Kesehatan ini dapat dibangun secara luas di Indonesia dengan perubahan system , maka solusi kesehatan lahir dan batin bagi siapa saja bukan lagi impian.

sumber: Erizelly Bandaro

Quo Vadis Rumah Sakit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *