Lima jam perjalanan tak mengurangi rasa lelah dan menyurutkan langkah untuk mencapai lokasi. Kami Relawan Istana KSJ pada hari minggu 23 Desember 2018 berangkat dari kota Cianjur  menuju ujung Cianjur Selatan tepatnya di Ciogong Desa Jatisari Kec.Sindangbarang. Jalan menuju Cianjur selatan memang berkelok-kelok dan mungkin bagi mereka yang pertama kali tentunya banyak yang mabuk perjalanan.

Perjalanan kami tak lain adalah dalam rangka mengantar pulang penerima manfaat di LKS Istana KSJ yang berinisial “HH” untuk kembali kepada keluarganya setelah tiga bulan dirawat karena mengalami gangguan jiwa. Nasib malang bagi HH, seorang perempuan yang kerja di luar negeri tapi kiriman uang malah disalahgunakan suaminya untuk nikah lagi. HH mulai mengalami gangguan jiwa setelah pulang ke Indonesia dan mendapati kenyataan suaminya seperti itu.

Tiga bulan yang lalu Istana KSJ mendapat titipan dari Puskesmas Sukasari Kecamatan Cilaku seorang gelandangan psikotik yang melahirkan di puskesmas tersebut. Alangkah keji memang lelaki yang tega menghamili seorang odgj dengan tanpa tanggung jawab dan kenyataan ini entah kenapa banyak terjadi. Jadi sesungguhnya siapa yang lebih sakit disini.

Setelah mengalami rehabilitasi di Istana KSJ, kesehatan jiwa HH mulai membaik dan selama di LKS ini aktifitas HH pun sangat baik dan banyak membantu kawan-kawan yang lainnya dalam proses penyembuhan. Dia cukup dewasa untuk mensuport yang lainnya dan  ia pun cukup dihormati yang lainnya.

LKS Istana KSJ merupakan rumah rehabilitasi penyandang disabilitas. Tidak seperti panti sosial bina laras atau rumah rehabolitasi yang lain, disini Anda yang berkunjung tidak akan menemui perawat berseragam atau peksos yang berseragam secara formal. Yang akan Anda temui adalah sesama penerima manfaat menunjukkan adanya saling asuh, saling asih dan saling menjaga. Penerima manfaat senior akan membimbing penerima manfaat yuniornya. Itulah konsep “Peer-Support” yang diterapkan di Istana KSJ. Konsep yang sangat menarik yang menjadi kelebihan Istana KSj dibanding panti atau rumah rehabilitasi lainnya.

“Rumah Aku sudah dekat” ujar HH berkali-kali dengan riangnya, ketika rombongan harus berjalan kaki menuju rumahnya karena kondisi jalan yang cukup parah sehingga tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.

Setelah hampir setengah jam perjalanan kaki akhirnya sampai juga ke lokasi tempat tinggal orang tua HH, suasana haru dan gembira menyelimuti kebahagian keluarga HH menyambut kedatangannya, juga merupakan bagi kita semua tentunya.

Istana KSJ secara seremoni menyerahkan HH kepada orantuanya yang meskipun mereka tidak pernah menitipkan HH karena memang HH kabur dari rumah dalam kondisi sakit jiwa. Momen inipun menjadi ajang edukasi kami kepada keluarga tentang penyakit dan cara penanganan keluarga terhadap HH pasca pemulangan.

Ada kegundahan kami setelah berkunjung ke rumah HH, kenyataan rumah yang sangat sederhana di pedalaman, tanpa meubeler, tanpa asesoris, dinding rumah dari bambu banyak yang bolong dan menganga begitu menyedihkan. Inilah kenyataan bahwa faktor ketidakmampuan ekonomi menjadi salah satu penyebab terbesar banyak terjadinya gangguan jiwa dan penghambat penanganan gangguan jiwa. Ini tanggungjawab kita semua!!!

Pulih dan kembali berkumpul dengan keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *