Istana KSJ – Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi antar kawasan di dunia memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Krisis ekonomi yang sampai saat ini belum mereda telah menimbulkan dampak terjadinya pengangguran dan persaingan yang makin ketat dalam berbagai bidang, baik dalam pekerjaan maupun sekolah. Masyarakat dituntut untuk lebih cepat beradaptasi, namun tidak semua individu dalam masyarakat tersebut mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Kondisi demikian sangat rentan terhadap terjadinya stress, anxietas, konflik, ketergantungan terhadap zat psikoaktif, perilaku seksual yang menyimpang, serta masalah-masalah psikososial lainnya.

source : schoolsweek.co.uk

Krisis ekonomi dunia dan semakin beratnya tuntutan ekonomi masyarakat saat ini mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan di Indonesia khususnya kian meningkat. Diperkirakan sekitar 50 juta atau 25 persen dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa akibat krisis ini. Tantangan hidup semakin berat. Warga yang terserang penyakit gangguan jiwa di Kab. Cianjur pun belakangan meningkat tajam. Data dari poli jiwa RSUD Cianjur menunjukkan bahwa rata-rata pasien yang berobat tahun 2011 mencapai 400 orang perbulan.

Selama ini masalah kesehatan hanya terfokus pada kesehatan fisik, sementara kesehatan jiwa tampaknya terabaikan. Satu sisi masyarakat masih punya stigma negative terhadap kesehatan jiwa dan di pihak lain pemerintah dalam program kesehatan jiwa masih menganaktirikan sector ini. Apapun kalaulah masalah kesehatan jiwa tidak ditangani secara serius tentu akan berpengaruh kepada Indeks Pembangunan Manusia. Posisi kesehatan mempunyai korelasi terhadap tingkat produktivitas masyarakat. Walaupun masalah kesehatan jiwa tidak langsung menyebabkan kematian, namun akan menyebabkan kerugian yang besar baik moriil maupun material, karena pasien menjadi tidak produktif dan bahkan seringkali tergantung kepada keluarga atau masyarakat sekitarnya.

Dalam Undang-undang no 23 tahun 1992 dijelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara social dan ekonomi. Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit dan secara klinis benar benar tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal atau tidak ada gangguan fungsi tubuh. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 hal yakni pikiran, emosional dan spiritual. Pikiran yang sehat terlihat dari cara pikir seseorang yang logis, emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosionalnya missal, takut sedih atau gembira, spiritual yang baik terlihat dari praktek keagamaan seseorang, yakni kita bisa melaksanakan apa yang diajarkan dan menjauhi berbagai larangan. Kesehatan social terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi seseorang atau kelompok lain tanpa melihat SARA, atau bisa terlihat dari sikap saling toleransi dan menghargai. Dengan kondisi sehat badan, jiwa dan social akan menumbuhkan terhadap sehat secara ekonomi, yakni terlihat dari produktivitas seseorang, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong hidupnya atau keluarganya secara financial. Dengan demikian tingkat kesehatan masyarakat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas suatu bangsa.

Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) pada Puncak Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) Tahun 2008 di halaman kantor Walikota Bogor, 20-10-2008 menegaskan bahwa masalah kesehatan jiwa sangat mempengaruhi produktifitas dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat yang tidak mungkin ditanggulangi oleh sektor kesehatan saja. Mutu SDM tidak dapat diperbaiki hanya dengan pemberian gizi seimbang namun juga perlu memperhatikan 3 aspek dasar yaitu fisik/jasmani (organo biologis), mental-emosional/jiwa (psikoedukatif), dan sosial-budaya/lingkungan (sosiokultural). Dalam kesempatan tersebut, Beliau menyampaikan 5 pesan mengenai kesehatan jiwa Indonesia, yaitu : 1. Kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan; tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. 2. Status kesehatan jiwa individu sangat menentukan kualitas hidup, karena status kesehatan jiwa yang buruk akan menurunkan indeks pembangunan manusia Indonesia. 3. Kesehatan jiwa harus terintegrasi ke dalam semua aspek kesehatan, kebijakan publik, perencanaan sistem kesehatan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. 4. Penanggulangan masalah kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat serta penderita dan keluarganya. 5. Setiap warga negara harus memelihara kesehatan jiwa dan raganya agar dapat hidup dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.

Atas dasar definisi Kesehatan tersebut di atas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Dari unsur “badan” (organobiologik), “jiwa” (psiko-edukatif) dan “sosial” (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dan “kesejahteraan” dan “produktivitas sosial ekonomi”.

Ditengah-tengah ketermarjinalan penanganan kesehatan jiwa, Alhamdulillah di Cianjur khususnya muncul relawan-relawan kesehatan jiwa yang tergabung dalam Istana KSJ. yang berupaya untuk ikut aktif dalam memberi dukungan bagi ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) dan keluarganya. Dua hal utama yang menjadi action KSJ dalam membantu meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat yakni kunjungan pasien dan keluarga dan bantuan layanan dan sumber daya pengobatan. Kegiatan Kunjungan Pasien dan Keluarga (Home Visit) ditujukan untuk membantu memberikan edukasi keswa, membimbing pasien dalam meminum obat secara benar berdasarkan resep dokter, dan membantu pasien dalam berlatih aktifitas sehar-hari. Pada tahun 2011 ini tercatat kunjungan KSJ (home Visit) kepada pasien dan keluarga rata-rata 23 kunjungan setiap minggu. Kegiatan bantuan layanan dan sumber daya pengobatan, berupa kegiatan asistensi di Polijiwa RSUD Cianjur dan membantu ODMK tidak mampu dengan Jamkesda Jenis Komunitas Sehat Jiwa. Kegiatan asistensi diarahkan untuk membantu administrasi, memantu pasien baru dan pasien akut. Relawan KSJ yang membantu Polijiwa RSUD Cianjur rata-rata 7 orang setiap praktek (hari selasa dan Rabu), relawan ini notabene adalah para mantan pasien yang telah sembuh, mereka terenyuh untuk membantu masalah kesehatan jiwa. Terbitnya Jamkesda jenis Komunitas Sehat Jiwa merupakan bentuk kepedulian Pemkab Cianjur bersama KSJ dalam membantu ODMK yang tidak mampu yang tidak terakomodasi dengan Jamkesmas, tercatat sampai bulan Desember 2011 telah terbit 560 kartu.

Melalui kegiatan yang dilakukan KSJ, terbukti bahwa ODMK bisa disembuhkan dengan 2 hal yaitu mengkonsumsi obat dengan benar dan perlakuan yang baik dari keluarga dan masyarakat. Pengobatan di lingkungan keluarga dan Masyarakat jauh lebih efektif dan efisien, sehingga bisa menjadi sebuah model alternative bagi penanggulangan masalah gangguan kejiwaan masyarakat di tengah kondisi keterbatasan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia.

Cianjur, Januari 2011 

KESEHATAN JIWA : ASPEK KESEHATAN YANG MASIH MARJINAL
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »